Raditya Dika Bongkar Rahasia Ubah Passion Jadi Cuan, Mahasiswa UPER Dibikin Melek Bisnis Digital

Di tengah otomatisasi digital dan ketatnya persaingan kerja, ekonomi kreatif berkembang sebagai salah satu ruang kewirausahaan yang menjanjikan bagi g

Editor: Admin
Ratusan peserta menghadiri diskusi edukatif tentang creativepreneurship dan bisnis digital yang diselenggarakan Universitas Pertamina bekerja sama dengan J&T Connect Preneur dan Narasi di Jakarta.(foto/dok UPER)
JAKARTA - Di tengah otomatisasi digital dan ketatnya persaingan kerja, ekonomi kreatif berkembang sebagai salah satu ruang kewirausahaan yang menjanjikan bagi generasi muda. 

Data BPS (2025) menunjukkan sektor ini terus menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia. Namun, potensi tersebut masih dihadapkan pada tantangan mendasar, terutama kemampuan mengubah ide kreatif menjadi produk atau bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar.

“Generasi muda memiliki segudang ide cemerlang, namun belum mampu memaksimalkan perputaran uang (monetisasi) dari hobi mereka karena tidak adanya market match, yaitu kesesuaian antara produk yang diciptakan dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat. Padahal, modal utama untuk memenangkan persaingan di industri yaitu keberanian untuk mencoba serta ketekunan dalam mengubah keresahan di sekitar menjadi solusi,” ungkap konten kreator sekaligus penulis Raditya Dika.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam sesi diskusi edukatif bertajuk “The Digital Native: Mastering Hype, Creativepreneurship, and Business Execution” yang diselenggarakan Universitas Pertamina bekerja sama dengan J&T Connect Preneur dan Narasi, Selasa (9/6/2026) kemarin. 

Tingginya relevansi tema terlihat dari antusiasme peserta, dengan jumlah pendaftar yang mencapai lebih dari 800 orang. Melalui forum ini, peserta diajak memahami bagaimana kreativitas, pemahaman pasar, dan kemampuan eksekusi menjadi faktor penting dalam membangun bisnis di tengah lanskap ekonomi digital yang semakin kompetitif.

Lebih lanjut, Radit menekankan bahwa kemampuan mengeksekusi ide bisnis berangkat dari pemahaman terhadap kekuatan diri. Menurutnya, seseorang tidak harus menguasai banyak hal sekaligus. 

Sebaliknya, menemukan satu keterampilan spesifik yang paling dikuasai dan terus mengembangkannya justru dapat menjadi modal utama untuk membangun nilai jual yang kuat.

Melengkapi pandangan tersebut, pebisnis sekaligus CEO produk parfum lokal HMNS, Rizky Arief, mengajak peserta melihat passion bukan sebagai bakat bawaan, melainkan sesuatu yang dibangun melalui proses belajar dan konsistensi dalam mengeksekusi ide.

“Tanpa disadari, passion kerap bermula dari keresahan masyarakat yang terus berulang. Tugas kita adalah meriset dan menemukan pasar yang benar-benar membutuhkan solusi dari kita. Lebih dari itu, di era digital ini kita dituntut untuk bisa menghidupkan imajinasi yang relevan di benak masyarakat. Imajinasi dan cerita inilah yang nantinya menjadi magnet utama bagi calon pembeli,” ujar Rizky.

Sebagai pelaku bisnis yang bertumbuh di ruang digital, Rizky juga menyoroti kompleksitas kompetisi bisnis saat ini. 

Ia menjelaskan bahwa di era digital, sebuah produk dapat dengan cepat viral, tetapi juga mudah tergeser ketika tren berganti atau muncul kompetitor dengan pendekatan yang lebih relevan. 

Ditambah lagi, perubahan algoritma platform digital dan preferensi audiens yang dinamis membuat pelaku usaha tidak lagi cukup hanya mengandalkan intuisi. Karena itu, menurutnya, kemampuan membaca perilaku konsumen, mengevaluasi keberhasilan maupun kegagalan, serta menyesuaikan strategi secara berkelanjutan menjadi kompetensi penting bagi wirausaha masa kini.

Sementara itu, Pjs. Rektor Universitas Pertamina, Prof. Ir. tech. Djoko Triyono, M.Si., menegaskan komitmen universitas dalam membangun ekosistem kewirausahaan yang mendukung lahirnya creativepreneur muda.

“Wawasan dari para praktisi pada kegiatan ini sejalan dengan komitmen Universitas Pertamina dalam mencetak lulusan yang adaptif dan mampu menciptakan peluang. Karena itu, kami menghadirkan fasilitas Inkubasi Bisnis sebagai ruang pendampingan agar ide-ide inovatif mahasiswa tidak berhenti pada konsep, tetapi dapat diuji, divalidasi pasar, dan berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan. Sampai tahun 2025 Inkubasi Bisnis UPER telah mendampingi  sebanyak 62 tim dengan total pendanaan mencapai 180 juta,” tegas Prof. Djoko. [tan]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com