![]() |
| Stafsus Mendagri, Hoiruddin Hasibuan Tinjau Pengembangan Agribisnis Aren di Pesantren Al Hidayah Deli Serdang. (foto/ist) |
Kunjungan ini untuk melihat secara langsung perkembangan perkebunan sekaligus hilirisasi agribisnis komoditas aren yang tengah dikembangkan di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.
Pesantren Al Hidayah merupakan lembaga pendidikan yang berada di bawah pembinaan Densus 88 Antiteror Polri dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).
Pesantren ini didirikan serta dipimpin oleh Ustadz Khairul Ghazali, yang kini aktif mendedikasikan dirinya sebagai Duta Damai dan penggerak program pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi produktif.
Di atas lahan seluas lima hektare, Pesantren Al Hidayah mengembangkan budidaya pohon aren secara terpadu. Seluruh area pesantren dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan komoditas yang dinilai memiliki potensi besar dalam menopang kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan energi berkelanjutan.
Dalam kunjungannya, Prof. Dr. Hoiruddin Hasibuan memberikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan Pesantren Al Hidayah. Menurutnya, langkah yang diinisiasi Ustadz Khairul Ghazali menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pembinaan keagamaan, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Pemilihan pohon aren (Arenga pinnata) sebagai komoditas utama dinilai sangat tepat karena memiliki manfaat yang luas, baik dari sisi ekonomi, pangan, energi, maupun lingkungan.
Salah satu keunggulan utama aren terletak pada hasil niranya yang dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi, seperti gula aren cetak, gula semut, dan gula cair. Produk-produk tersebut semakin diminati karena memiliki indeks glikemik yang relatif lebih rendah dibandingkan gula tebu serta memiliki peluang pasar yang menjanjikan, baik di dalam negeri maupun untuk ekspor.
Tak hanya itu, batang aren yang telah tua juga dapat menghasilkan pati berkualitas tinggi sebagai bahan baku berbagai produk pangan alternatif, seperti soun dan kerupuk. Sementara buah aren menghasilkan kolang-kaling yang selama ini memiliki nilai jual cukup tinggi di pasar.
Selain berperan dalam sektor pangan, pohon aren juga memiliki prospek besar dalam mendukung ketahanan energi nasional. Nira aren dapat difermentasi menjadi bioetanol berkualitas tinggi yang selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar nabati (BBN) untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Keunggulan lain dari aren adalah kemampuannya menghasilkan bahan baku bioetanol tanpa mengganggu kebutuhan pangan masyarakat. Berbeda dengan beberapa komoditas lain yang kerap memunculkan dilema antara penggunaan untuk konsumsi dan energi, aren mampu menjembatani kedua kebutuhan tersebut secara seimbang.
Dari sisi ekologis, pohon aren dikenal memiliki sistem perakaran yang kuat dan dalam sehingga efektif mencegah erosi, mengurangi risiko longsor, serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan cadangan air. Karena itu, pengembangan perkebunan aren tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.
Melalui kunjungan tersebut, Hoiruddin Hasibuan berharap model pengembangan agribisnis aren yang diterapkan di Pesantren Al Hidayah dapat menjadi contoh bagi pesantren-pesantren lain di seluruh Indonesia.
Program ini menunjukkan bahwa pesantren mampu bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya mencetak generasi berakhlak dan berwawasan kebangsaan, tetapi juga menjadi lokomotif kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, serta pengembangan energi terbarukan demi mendukung terwujudnya Indonesia yang lebih mandiri dan berkelanjutan.[rasid]
