![]() |
| Gubernur Sumut Bobby Nasution. (foto/ist) |
Wakil Ketua Umum Kadin Sumut, Isfan Fachruddin SE MSP, menyebut penanganan inflasi di Sumut sudah berada pada ritme yang tepat. Menurutnya, menurunkan inflasi tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus bertahap dan terukur.
“Pak Gubernur sudah on the track. Jangan dilihat semata dari besaran persentase penurunan, karena inflasi memang harus diturunkan secara bertahap agar tidak berbalik menjadi deflasi,” ujar Isfan, Sabtu (8/11/2025).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Sumut pada Oktober 2025 turun menjadi 4,97 persen (yoy) dari sebelumnya 5,32 persen, menandakan arah pengendalian harga yang semakin stabil.
Isfan yang juga mantan legislator DPRD Sumut itu mendorong Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di provinsi dan kabupaten/kota untuk menjaga ritme yang sudah terbentuk. Menurutnya, dinas ketahanan pangan dan perdagangan di setiap daerah harus lebih aktif memastikan rantai pasok berjalan lancar.
“Menjaga rantai pasok dan mengawasi spekulan itu penting agar panen di November–Desember nanti menghasilkan surplus pangan dan harga tetap stabil. Bupati dan wali kota juga perlu turun langsung karena kondisi tiap daerah berbeda,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan langkah inovatif berupa kerja sama barter bahan pangan antardaerah yang pernah dilakukan Bobby Nasution saat menjabat Wali Kota Medan bersama Kabupaten Dairi.
“Misalnya, Langkat bisa bekerja sama dengan Aceh yang jaraknya lebih dekat. Barter bahan pangan lebih efisien dibanding membeli dari daerah jauh seperti Sumatera Barat,” jelas Isfan.
Isfan menilai, kritik yang menyebut Gubernur Sumut gagal menekan inflasi adalah narasi keliru.
“Inflasi turun itu proses, tidak bisa langsung drastis. Yang penting trennya menurun dan bisa dikendalikan sampai akhir tahun,” tambahnya.
Sementara itu, Kabiro Perekonomian Setdaprov Sumut, Poppy Marulita Hutagalung, menegaskan bahwa penurunan inflasi merupakan hasil koordinasi lintas sektor yang solid antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, serta instansi terkait. “Kolaborasi yang baik membuat harga bahan pokok yang sempat melonjak kini mulai stabil,” ujarnya.
Ia menyebut, cabai merah dan emas perhiasan masih menjadi penyumbang inflasi utama. Namun dengan intervensi yang tepat, harga dua komoditas tersebut perlahan terkendali.
Pemerintah Provinsi Sumut terus memperkuat ketahanan pangan lokal melalui bantuan sarana pertanian, perluasan akses pembiayaan bagi petani, operasi pasar murah, serta kerja sama antardaerah untuk memperlancar distribusi bahan pangan.
BUMD juga dilibatkan dengan menyalurkan cabai merah dari Jawa guna menekan lonjakan harga di pasar lokal.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Sumut, Yusfahri, menyampaikan bahwa Sumut mengalami surplus pangan signifikan pada November 2025.
Produksi beras diperkirakan mencapai 243.832 ton, jauh di atas kebutuhan sebesar 140.842 ton, sehingga terdapat surplus 102.990 ton. Untuk komoditas cabai merah, produksi mencapai 19.417 ton, sementara kebutuhan hanya 9.912 ton, menghasilkan surplus 9.505 ton.
Sentra utama produksi cabai berada di Karo, Simalungun, Tapanuli Utara, Dairi, Humbahas, Pakpak Bharat, dan Batu Bara.
Dengan pengendalian inflasi yang konsisten, kolaborasi lintas sektor yang solid, serta surplus pangan yang terus meningkat, Gubernur Bobby Nasution dinilai berhasil menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan Sumatera Utara menjelang akhir tahun 2025.[tan]
