INALUM: Mercusuar Kedaulatan Hijau Nusantara

TUHAN menitipkan sepotong surga di pedalaman Sumatera Utara bernama Toba—sebuah kawah purba raksasa yang airnya tak sekadar menjadi cermin bagi langit

Editor: Admin
Bendungan Tangga terletak di Desa Tangga, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Bendungan ini merupakan PLTA yang dikelola oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dan beroperasi sejak tahun 1983. Foto: Dok. INALUM
TUHAN menitipkan sepotong surga di pedalaman Sumatera Utara bernama Toba—sebuah kawah purba raksasa yang airnya tak sekadar menjadi cermin bagi langit, tetapi juga urat nadi bagi kemandirian bangsa. Di sini, di antara tebing-tebing curam dan gemuruh air terjun, Indonesia menaruh asa pada aliran Sungai Asahan untuk menggerakkan turbin-turbin raksasa penghasil logam strategis: aluminium.

Bukan sekadar cerita tentang keindahan alam, naskah ini adalah narasi tentang bagaimana PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) merajut keberlanjutan di tengah denyut produksi. Dengan pabrik peleburan di Kuala Tanjung dan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Paritohan, INALUM sering kali dipandang sebagai simbol kekuatan industri berat. Namun, di balik megahnya fasilitas produksi, tersembunyi komitmen kuat untuk menjaga keseimbangan antara profit dan planet.

Bagaimana mungkin industri yang haus energi bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan alam? Aluminium memerlukan sekitar 14.000 kWh energi listrik untuk memproduksi satu ton logam. Jawabannya terletak pada pemanfaatan energi terbarukan yang masif. 

Untuk memenuhi kebutuhan raksasa ini tanpa merusak alam, INALUM mengelola Proyek Asahan 2 yang terdiri dari tiga bendungan (Siruar, Siguragura, dan Tangga) serta dua PLTA (Siguragura dan Tangga). Dengan kapasitas maksimum 603 MW, fasilitas ini menjadi tulang punggung produksi "Aluminium Hijau". 

Setiap tetes air Sungai Asahan dikonversi menjadi energi kinetik yang bersih, stabil, dan kompetitif. Hasilnya pun nyata; pada 2025, sebesar 95,51% energi produksi berasal dari PLTA, meningkat dari angka 94,29% pada tahun sebelumnya.

Efisiensi lingkungan ini membawa INALUM masuk ke dalam kelompok elit industri nasional. Pada periode 2024–2025, partisipasi PROPER mencapai 5.476 perusahaan. Namun, hanya 282 perusahaan yang berhasil menembus kategori beyond compliance (melampaui ketaatan), yang terdiri dari 39 perusahaan berperingkat Emas dan 243 perusahaan berperingkat Hijau. INALUM sukses menjadi salah satu motor transformasi tersebut.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, saat penyerahan penghargaan di Jakarta menegaskan, "PROPER mendorong perusahaan tidak hanya taat, tetapi melampaui ketaatan melalui inovasi dan kontribusi nyata kepada masyarakat."

Transformasi hijau ini pun menyentuh nadi kehidupan masyarakat. Di Desa Meat, Kabupaten Toba, INALUM mengubah potret ketertinggalan menjadi destinasi Eco-cultural Tourism yang berdaya. Aliran kebaikan tersebut terus mengalir hingga ke Samosir dan Asahan.

Pada April 2026, INALUM kembali menegaskan perannya sebagai mitra strategis pembangunan di Kabupaten Samosir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang menyentuh sektor fundamental:

  • Pendidikan: Pemberian beasiswa bagi putra daerah di ITB, bantuan sarana sekolah (mobiler), hingga media pembelajaran digital di Simanindo dan Harian.
  • Lingkungan & Budaya: Pengadaan ribuan tempat sampah, rumah kompos, hingga revitalisasi ikon budaya seperti patung Sigale-gale dan perlengkapan homestay di Hariara Pohan.
  • Pemberdayaan Ekonomi: Pelatihan pengolahan ikan Red Devil menjadi produk bernilai tambah bagi UMKM—sebuah inovasi yang mengatasi masalah ekologi sekaligus meningkatkan pendapatan warga.

Bupati Samosir, Vandiko Gultom, mengapresiasi kontribusi inklusif ini. "Program ini sangat membantu masyarakat. Kami berharap sinergi ini berjalan secara berkelanjutan," ujarnya.

Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita saat menerima PROPER Emas. (Foto: Dok. INALUM)



Warisan untuk Masa Depan

DAMPAK nyata komitmen ini tercermin dalam konsistensi raihan PROPER Emas dan Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pabrik Peleburan Kuala Tanjung sukses meraih PROPER Emas pada 2022, 2024, dan 2025, sementara PLTA Paritohan menyabetnya pada 2023. 

Peringkat Hijau pun konsisten diraih kedua unit operasional tersebut dalam kurun waktu yang sama, menegaskan implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang matang.

Direktur Utama INALUM, Melati Sarnita, menekankan bahwa keberlanjutan adalah inti strategi bisnis perusahaan. "Kehadiran perusahaan bukan hanya sebagai entitas industri, melainkan mitra yang memastikan setiap operasional sejalan dengan prinsip keberlanjutan," terangnya.

Pada akhirnya, seluruh kiprah ini merupakan manifestasi filosofi luhur Dalihan Na Tolu. Inovasi industri sebagai wujud Somba Marhula-hula (hormat pada negara dan alam), konservasi air sebagai Elek Marboru (mengayomi generasi mendatang), dan pemberdayaan masyarakat sebagai Manat Mardongan Tubu (berjalan beriringan dalam persaudaraan).

Dari jernihnya air Danau Toba hingga hiruk pikuk Kuala Tanjung, INALUM membuktikan bahwa kemajuan industri dan kelestarian alam dapat tumbuh dalam harmoni yang sempurna—sebuah mercusuar bagi kedaulatan hijau Nusantara.(Penulis: RAHMADHIKA)

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com