Pelatihan Pemanfaatan Sampah di Medan, Sofyan Tan : DPR RI Dukung BRIN Manfaatkan Teknologi Untuk Kelola Sampah Jadi Sumber Energi

Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan membuka pelatihan Pemanfaatan Sampah sebagai Sumber Energi, di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (11/4/2026).

Editor: Admin
Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan. (foto/ist)
MEDAN - Anggota DPR RI, dr Sofyan Tan membuka pelatihan Pemanfaatan Sampah sebagai Sumber Energi, di Hotel Le Polonia, Medan, Sabtu (11/4/2026).

Pelatihan yang bekerjasama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan hasil riset dan inovasi, khususnya di bidang pengelolaan sampah.

dr Sofyan Tan, menyebutkan, Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah terbesar kedua setelah China. Dengan jumlah sampah yang besar, maka Indonesia bisa menghasilkan sumber energi yang lebih besar pula.

“Ternyata 1 kilo plastik jika diolah oleh ahlinya bisa menjadi 0,85 liter bensin. Jadi kalau ada 10,5 juta ton, bisa hasilkan 9 juta liter sampai 10 juta bensin," katanya.

Untuk itu, pihaknya mendukung penuh BRIN untuk melakukan berbagai inovasi dalam mengelola sumber energi. "Saya pernah coba bertanya kepada Pertamina. Berapa kebutuhan bensin pertahun, ternyata kita menghabiskan 1 miliar pertahun secara nasional. Makanya komisi X DPR RI memberi dukungan kepada BRIN untuk melakukan inovasi dan menggunakan teknologi  supaya bisa menghasilkan energi," ujarnya.

Dalam pelatihan pengolahan sampah ini, Sofyan Tan berharap, masyarakat dapat memahami cara mengelola sampah secara efektif dan bernilai guna. 

Sementara itu, narasumber pelatihan dari BRIN yakni Fahruddin Joko Ernanda, menyebutkan, Indonesia menghasilkan sekitar 35 juta ton sampah per tahun, dengan sekitar 39 persen merupakan sampah organik dan hampir 20 persen berupa plastik.

“Kebanyakan sampah di Indonesia belum terkelola dengan baik. Dampaknya bukan hanya pencemaran lingkungan, tetapi juga gangguan kesehatan dan banjir,” jelasnya.

Fahruddin menjelaskan, beberapa metode pengolahan sampah menjadi energi. Salah satunya adalah metode biologis yang menghasilkan biogas dari sampah organik.

Selain itu, terdapat metode pirolisis yang digunakan untuk mengolah sampah plastik tanpa oksigen pada suhu tinggi, sekitar 300 hingga 500 derajat Celsius, yang dapat menghasilkan bahan bakar seperti diesel.

Selain metode tersebut, ia juga memperkenalkan alat pengolah sampah organik bernama Lahsamor, yang dirancang untuk mengolah sampah rumah tangga seperti sisa sayur dan buah. 

Alat ini dapat digunakan baik di dalam maupun luar ruangan dan dinilai efektif dalam mengurangi volume sampah serta beban tempat pembuangan akhir (TPA).

“Kami sudah menggunakan alat ini dan terbukti mampu mengurangi produksi sampah secara signifikan. Ini solusi praktis yang bisa diterapkan di tingkat rumah tangga,” ungkapnya. [eko brahma]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com