![]() |
| Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas hadir dalam kegiatan bertajuk Festika (Festival Kreativitas Anak. (foto/ist) |
Ratusan anak menampilkan beragam pertunjukan seni, termasuk penampilan anak-anak penyandang down syndrome yang mendapat apresiasi dari para hadirin.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas hadir dalam kegiatan bertajuk Festika (Festival Kreativitas Anak) tersebut. Keduanya juga berinteraksi dengan anak-anak, termasuk penyandang disabilitas, sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak anak.
Dalam sambutannya, Rico Waas mengapresiasi Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, dan KB Kota Medan yang menggelar peringatan HAN 2026 bertema "Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya."
Menurut Rico, peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam melindungi dan memenuhi hak anak, bukan sekadar kegiatan seremonial.
"Saya melihat langsung potensi, kreativitas, dan keberanian anak-anak Kota Medan. Mereka adalah generasi penerus yang harus diberi ruang untuk berkembang dan berkarya," ujarnya.
Rico juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi penggunaan gawai di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, pembatasan penggunaan gadget harus dimulai dari keteladanan orang tua di rumah.
"Anak akan meniru kebiasaan orang tuanya. Karena itu, pendampingan dan pembatasan penggunaan gawai perlu dilakukan secara bijak agar tumbuh kembang anak tetap optimal," katanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Medan berkomitmen menciptakan lingkungan yang ramah anak dengan memberikan ruang yang setara bagi seluruh anak untuk belajar, berkreasi, dan meraih prestasi tanpa diskriminasi.
Peringatan HAN 2026 turut dihadiri jajaran Pemko Medan, Ketua DWP Kota Medan, Direktur Eksekutif PKPA, perwakilan POTADS Sumatera Utara, serta sejumlah komunitas dan sekolah luar biasa (SLB).Hari Anak Nasional 2026 di Medan, Rico Waas: Setiap Anak Berhak Berkarya dan Tumbuh Optimal
MEDAN – Suasana penuh keceriaan mewarnai peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar di Gedung Pancasila Universitas Sumatera Utara (USU), Sabtu (25/7/2026).
Ratusan anak menampilkan beragam pertunjukan seni, termasuk penampilan anak-anak penyandang down syndrome yang mendapat apresiasi dari para hadirin.
Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas bersama Ketua TP PKK Kota Medan Airin Rico Waas hadir dalam kegiatan bertajuk Festika (Festival Kreativitas Anak) tersebut. Keduanya juga berinteraksi dengan anak-anak, termasuk penyandang disabilitas, sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan hak anak.
Dalam sambutannya, Rico Waas mengapresiasi Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) serta Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, dan KB Kota Medan yang menggelar peringatan HAN 2026 bertema "Anak Terjaga, Gawai Secukupnya, Budaya Selamanya."
Menurut Rico, peringatan Hari Anak Nasional harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen dalam melindungi dan memenuhi hak anak, bukan sekadar kegiatan seremonial.
"Saya melihat langsung potensi, kreativitas, dan keberanian anak-anak Kota Medan. Mereka adalah generasi penerus yang harus diberi ruang untuk berkembang dan berkarya," ujarnya.
Rico juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi penggunaan gawai di tengah perkembangan teknologi. Menurutnya, pembatasan penggunaan gadget harus dimulai dari keteladanan orang tua di rumah.
"Anak akan meniru kebiasaan orang tuanya. Karena itu, pendampingan dan pembatasan penggunaan gawai perlu dilakukan secara bijak agar tumbuh kembang anak tetap optimal," katanya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kota Medan berkomitmen menciptakan lingkungan yang ramah anak dengan memberikan ruang yang setara bagi seluruh anak untuk belajar, berkreasi, dan meraih prestasi tanpa diskriminasi.
Peringatan HAN 2026 turut dihadiri jajaran Pemko Medan, Ketua DWP Kota Medan, Direktur Eksekutif PKPA, perwakilan POTADS Sumatera Utara, serta sejumlah komunitas dan sekolah luar biasa (SLB).[eko brahma]
