Refleksi Kudatuli, Hasyim Sebut Peristiwa 27 Juli 1996 Tonggak Perjuangan Demokrasi

Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Medan, Hasyim, SE., menegaskan bahwa Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) merupakan tonggak awal bangkitnya demo

Editor: Admin
Seminar bertajuk "Refleksi Kudatuli: Meretas Jalan Demokrasi. Spirit Kudatuli untuk Generasi Muda." (foto/ist)
MEDAN - Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Medan, Hasyim, SE., menegaskan bahwa Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) merupakan tonggak awal bangkitnya demokrasi sekaligus simbol perlawanan tegas terhadap tindakan represif Orde Baru. 

Penegasan tersebut disampaikan Hasyim di hadapan lebih dari 200 mahasiswa dan perwakilan organisasi kepemudaan yang memadati ruang seminar bertajuk "Refleksi Kudatuli: Meretas Jalan Demokrasi. Spirit Kudatuli untuk Generasi Muda." 

Seminar itu dimoderatori Dr. Hj. Fitriani Manurung, M.Pd dan Dr. Rosdiana Tarigan, dengan 3 pemateri, yakni Prof Dr. Taufik Siregar, SH., M.Hum (UMA), Prof Dr. Anang Anas Azhar (UINSU) dan Keynote Speaker, Masinton Pasaribu, SH, MH. 

Tampak hadir Koordinator acara, Paul Mei Anton Simanjuntak, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kota Medan Boydo HK Panjaitan SH dan Bendahara Ust Fuad Akbar, M.Sos serta jajaran pengurus DPC.

Di hadapan ratusan kaum intelektual muda, Hasyim menyatakan bahwa Kudatuli bukanlah sekadar catatan sejarah yang berdebu. Peristiwa kelam tersebut justru menjadi batu ujian dan cambuk militansi bagi PDI Perjuangan untuk senantiasa berdiri tegak bersama rakyat.

"Sejarah kelam, intimidasi, dan penindasan yang kami alami saat itu justru menjadi cambuk yang membangkitkan militansi kami untuk bangkit, berdiri tegak, dan terus berjuang bersama rakyat," ujar Hasyim.

Hasyim mengingatkan para mahasiswa agar tidak terjebak dalam pusaran apatisme politik. Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Jika dahulu perjuangan berfokus meruntuhkan otoritarianisme, hari ini tugas utama anak muda adalah memastikan demokrasi tidak dibajak oleh kepentingan segelintir elit.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga nalar kritis di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Sebagai partai yang berideologi Marhaenisme, Hasyim menekankan bahwa PDI Perjuangan terbuka seluas-luasnya bagi kaum muda untuk berkolaborasi mengawal kebijakan negara agar senantiasa berpihak kepada rakyat kecil.

"Tantangannya adalah bagaimana memastikan demokrasi tidak dikerdilkan oleh politik transaksional dan tidak mati oleh apatisme. Kemenangan yang hakiki bukanlah sekadar menang dalam hitungan suara, melainkan kemenangan yang diraih bersama rakyat," tegas Hasyim di hadapan para peserta.

Melalui momentum refleksi sejarah ini, Hasyim mengajak mahasiswa Kota Medan untuk menjadikan semangat Kudatuli sebagai kompas moral. Ia mendorong anak muda agar aktif turun ke bawah, menyerap denyut nadi masyarakat, dan menawarkan solusi nyata atas persoalan sosial-ekonomi seperti lapangan kerja dan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Seminar strategis ini resmi dibuka oleh Hasyim dengan harapan agar diskursus politik di kalangan mahasiswa tidak berhenti pada ruang seremonial, melainkan bertransformasi menjadi kerja nyata yang terukur demi mengawal hak-hak rakyat dan menjaga marwah demokrasi di Indonesia.[tan]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com