Pertemuan tersebut membahas pengembangan infrastruktur strategis yang dinilai dapat memperkuat konektivitas, pertumbuhan ekonomi, pariwisata, serta infrastruktur pertahanan di Sumatera Utara.
Ruas Tol Simpang Panei–Parapat direncanakan sepanjang sekitar 40,36 kilometer, dengan sekitar 38 kilometer melintasi wilayah Kabupaten Simalungun.
Saat ini, penyusunan Basic Design dan Studi Kelayakan (Feasibility Study) disebut telah mencapai sekitar 90 persen dengan melibatkan BUJT PT Hutama Marga Waskita bersama Kementerian Pekerjaan Umum.
Pemkab Simalungun menilai keberadaan tol tersebut dapat memperlancar akses menuju Parapat dan kawasan Danau Toba, sekaligus membuka peluang investasi, memperkuat perdagangan, pariwisata, distribusi barang dan jasa, serta meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Dengan sekitar 38 kilometer ruas tol berada di wilayah kami, pemerintah daerah berharap proses perencanaan dan tahapan pembangunan dapat terus berlanjut hingga terealisasi,” ujar Anton. Menurutnya, pembangunan tol tersebut bukan sekadar proyek fisik, tetapi berkaitan dengan masa depan konektivitas dan perekonomian masyarakat Simalungun.
Dalam audiensi tersebut, Pemkab Simalungun juga mengusulkan agar sebagian desain infrastruktur tol, khususnya lokasi sekitar 3 kilometer dari pintu Tol Simpang Panei, dapat dipertimbangkan memiliki fungsi sebagai landasan darurat pesawat tempur.
Usulan tersebut diharapkan dapat diintegrasikan sejak tahap perencanaan dan penyusunan desain dasar. Kementerian Pertahanan disebut menyambut positif gagasan tersebut karena integrasi aspek pertahanan sejak awal dinilai dapat memberikan manfaat strategis tanpa memerlukan penyesuaian konstruksi besar di kemudian hari.[zai]
