![]() |
| Penyintas Banjir di Sekumur Gelar Pawai Obor Sambut Ramadan. (foto:ss/rasid) |
Ratusan warga yang sebagian masih bertahan di tenda bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana tetap menggelar tradisi tahunan pawai obor untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Langkah kaki anak-anak, orang tua, hingga relawan menyusuri jalan desa yang belum sepenuhnya pulih. Di antara tenda biru-oranye dan puing kayu sisa banjir, nyala api kecil itu menerangi wajah-wajah yang beberapa hari lalu diliputi kecemasan.
Tradisi tersebut digagas seorang pemuda desa, Mat Isya. Di tengah kondisi kampung yang porak-poranda, ia mengajak para relawan dan pemuda menjaga semangat kebersamaan.
“Awalnya saya ngobrol santai dengan relawan untuk tetap mengadakan pawai obor. Ternyata semua setuju. Setiap tahun kami memang selalu melaksanakannya menjelang Ramadan,” ujarnya.
Sehari sebelumnya, para pemuda bersama relawan mencari bambu, merakit obor, lalu menyiapkannya secara gotong royong. Tanpa panggung atau perayaan besar, hanya cahaya api sederhana yang menyatukan mereka.
Desa Sekumur sendiri masih dalam masa pemulihan pascabanjir. Sejumlah rumah rusak, bahkan ada yang rata dengan tanah. Namun malam itu suasana berubah hangat. Warga berjalan beriringan, melantunkan takbir dan shalawat, seolah menguatkan satu sama lain.
Bagi masyarakat, Ramadan kali ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum untuk bangkit dari musibah. Deretan obor yang memanjang di sepanjang jalan desa menjadi simbol keteguhan hati—bahwa di tengah gelapnya bencana, harapan tetap menyala. Di Sekumur, Ramadan disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketabahan dan kebersamaan. [rasid]
