![]() |
| Galian drainase yang meresahkan warga Desa Batu Gingging, Bangun Purba. (foto/ist) |
Masyarakat khawatir proyek tersebut berpotensi menimbulkan dampak lingkungan, seperti genangan air saat musim hujan hingga meningkatnya risiko berkembangnya sarang nyamuk yang dapat mengganggu kesehatan warga.
Salah seorang warga, Sukani, mengatakan dirinya telah menetap di Desa Batu Gingging selama lebih dari 54 tahun. Menurutnya, kawasan yang ditempati warga sejak dahulu merupakan lahan milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang diperuntukkan sebagai permukiman masyarakat dan berbatasan langsung dengan areal perkebunan.
"Saya sudah 54 tahun tinggal di Desa Batu Gingging. Sejak awal kawasan ini merupakan lahan milik PT KAI yang ditempati warga untuk membangun rumah. Jarak permukiman warga Batu Gingging dengan permukiman warga Desa Bangun Purba hanya sekitar 30 meter," ujar Sukani, Kamis (23/7/2026).
Ia menuturkan, selama puluhan tahun tidak pernah terjadi persoalan di kawasan tersebut. Namun, sejak Juli 2026, pihak perkebunan mulai melakukan pembersihan lahan dan berencana membangun saluran drainase berukuran besar.
Menurut Sukani, posisi drainase yang direncanakan sangat dekat dengan permukiman warga sehingga memunculkan kekhawatiran akan dampak yang ditimbulkan.
"Kami khawatir saluran drainase itu akan menyebabkan genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk. Selain itu, kami juga takut saat musim hujan nanti air meluap hingga menggenangi permukiman," katanya.
Ia juga menyebut pembersihan lahan telah membuat kawasan sekitar permukiman menjadi gersang. Kondisi tersebut, lanjutnya, turut berdampak pada aktivitas warga, termasuk area penggembalaan ternak yang kini semakin terbatas.
Meski demikian, warga menegaskan tidak menolak pembangunan yang dilakukan. Mereka hanya berharap proyek tersebut memperhatikan aspek keselamatan dan kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi.
Warga juga meminta Pemerintah Kabupaten Deli Serdang turun tangan untuk memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut agar tidak menimbulkan dampak bagi sekitar 20 kepala keluarga yang bermukim di kawasan itu.
"Kami tidak menghalangi pembangunan. Kami hanya berharap ada solusi terbaik agar permukiman kami tetap aman dan nyaman. Kami juga memohon perhatian Bupati Deli Serdang terhadap kondisi yang kami alami saat ini," pungkas Sukani.[romulo]
