IMSTYLO Dorong Seni dan Blockchain Bersatu di Kuala Lumpur, Buka Peluang Investasi Ekonomi Kreatif Global

Perkembangan teknologi blockchain mulai membuka babak baru bagi industri kreatif global. Di Kuala Lumpur, Malaysia, seni, teknologi, dan investasi

Editor: Admin
Forum  seniman, inovator, dan investor untuk membangun masa depan ekonomi kreatif berbasis blockchain. (foto/ist)
KUALA LUMPUR — Perkembangan teknologi blockchain mulai membuka babak baru bagi industri kreatif global. Di Kuala Lumpur, Malaysia, seni, teknologi, dan investasi bertemu dalam ajang Funders Meet Creators, sebuah forum yang mempertemukan seniman, inovator, dan investor untuk membangun masa depan ekonomi kreatif berbasis blockchain.

Acara tersebut digelar oleh IMSTYLO, platform Intellectual Property (IP) blockchain berbasis Swiss di bawah Stylo International, yang fokus menghubungkan kreativitas dengan akses permodalan global melalui teknologi digital.

Melalui ekosistem Hall of F.A.M.E (Fashion, Arts, Music, Entertainment, Lifestyle & Sustainability), para kreator dari berbagai bidang diberikan ruang untuk mempresentasikan karya, ide bisnis, hingga potensi pengembangan aset kreatif kepada panel penasihat bisnis dan investor internasional.

IMSTYLO didirikan oleh Datuk Nancy Yeoh bersama venture builder asal Singapura, Ivan Lim. Keduanya mengusung misi menghadirkan solusi pendanaan baru bagi pelaku industri kreatif melalui konsep Real World Assets (RWA) berbasis blockchain.

Lewat teknologi tersebut, berbagai aset kekayaan intelektual seperti karya fesyen, musik, film, hingga produk budaya dapat dikonversi menjadi aset digital on-chain yang memiliki nilai investasi, transparansi, dan kepemilikan fraksional.

Menurut Nancy Yeoh, dunia saat ini tidak kekurangan kreativitas, namun masih membutuhkan ekosistem dan teknologi yang mampu menghubungkan kreator dengan pasar modal global.

“Yang kurang saat ini bukan kreativitas, tetapi teknologi integrasi, sistem yang terstruktur, dan akses nyata ke pendanaan,” ujar Nancy Yeoh.

Saat ini, sektor RWA menjadi salah satu tren terbesar dalam industri keuangan digital global. Hingga April 2026, nilai pasar RWA disebut telah melampaui US$360 miliar, didorong oleh instrumen investasi seperti treasury, kredit swasta, dan properti.

IMSTYLO mencoba memperluas konsep tersebut ke sektor seni dan budaya dengan menghadirkan model investasi baru bagi ekonomi kreatif.

Dalam acara itu, sejumlah kreator ternama Malaysia turut mempresentasikan proyek mereka. Sutradara Datuk Shuhaimi Baba bersama produser Kavita Sidhu memperkenalkan proyek film horor Pontianak 3, yang merupakan kelanjutan franchise populer di Asia Tenggara.

Selain itu, komponis sekaligus pendiri International Jazz Festival, Rodin Kumar, memaparkan visi pengembangan produksi musik dan pengalaman panggung berbasis teknologi kreatif.

Sementara desainer Azizul Latif memperkenalkan label songkok modern We Are Nothing dengan konsep koleksi RWA bertajuk Punk Rock Kelantanese: A Textile Motif.

Dari sektor fesyen, desainer aksesori asal Penang sekaligus pemenang Malaysia Fashion Week 2016, Jonathan Yun, menampilkan koleksi perhiasan Nyonya yang akan dipamerkan dalam showcase IMSTYLO bertajuk The Little Nyonya pada Juni mendatang.

Co-founder IMSTYLO, Ivan Lim, menjelaskan bahwa pihaknya ingin membantu para kreator berkembang bukan hanya sebagai seniman, tetapi juga sebagai pembangun aset ekonomi bernilai global.

“Kami membantu kreator berevolusi dari sekadar seniman menjadi pembangun aset melalui kepemilikan berbasis blockchain dan ekosistem investasi yang terstruktur,” jelas Ivan Lim.

Transformasi industri kreatif berbasis blockchain ini turut mendapat dukungan dari sejumlah penasihat dan mitra bisnis internasional, di antaranya Dennis O’Neill dari O’Neill Capital Advisor Amerika Serikat, Eddy Virgo dari Indonesia, hingga Rolv Andre Reissiger dari International Blockchain Organisation Malaysia.

Melalui inisiatif tersebut, IMSTYLO dinilai menjadi salah satu pionir dalam menggabungkan seni, teknologi blockchain, dan investasi modern untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tingkat global. [subari]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com