Hari Lahir Pancasila, Tumpal Utrecht Ingatkan Ancaman 'Jajahan Algoritma' bagi Generasi Emas

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Senin 1 Juni 2026, dinilai bukan sekadar rutinitas kalender tahunan. Lebih dari itu, momentum

Editor: Admin
Tokoh muda Sumut Tumpal Utrecht Napitupulu. (foto/ist)
​MEDAN - Peringatan Hari Lahir Pancasila yang jatuh pada Senin 1 Juni 2026, dinilai bukan sekadar rutinitas kalender tahunan. Lebih dari itu, momentum ini merupakan ruang refleksi krusial untuk menguji sejauh mana dasar ideologi negara ini benar-benar dihayati sebagai pandangan hidup (way of life) di tengah gempuran disrupsi teknologi global.

​Penegasan tersebut disampaikan tokoh muda Sumatra Utara, Tumpal Utrecht Napitupulu, SH, MH, saat memberikan pandangannya kepada wartawan di Medan, Senin (1/6/2026). 

Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan Kota Medan ini mengingatkan bahwa kenyamanan digital yang dinikmati masyarakat hari ini membawa tantangan kultural yang sangat besar.

​"Hari ini, tepat 81 tahun Pancasila ditetapkan sebagai dasar Indonesia merdeka. Para pendiri bangsa telah meletakkan nilai-nilai luhur ini sebagai jangkar utama kehidupan kita. Namun saat ini, ketahanan ideologi kita sedang diuji oleh arus kemajuan teknologi yang bergerak luar biasa cepat," ujar Tumpal dengan nada reflektif.

Menurut Tumpal, ruang digital modern telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial baru yang memiliki dua sisi mata uang: menawarkan efisiensi, namun di saat bersamaan berpotensi mengikis empati dan moralitas komunal. Jika tidak diantisipasi, penetrasi negatif teknologi dikhawatirkan dapat menjauhkan masyarakat—khususnya generasi muda—dari akar budaya bangsanya sendiri.

​Atas dasar itu, Tumpal mendesak adanya gerakan kolektif yang melibatkan institusi terkecil masyarakat, yaitu keluarga dan sekolah. Orang tua dan guru harus mengambil peran utama sebagai kurator informasi bagi anak-anak yang sedang memasuki fase krusial remaja.

​"Pancasila adalah fondasi moral utama. Nilai-nilai di dalamnya adalah perekat yang menjaga bangsa ini tetap utuh melintasi zaman. Jika generasi penerus kita dibekali dengan pemahaman ideologi yang kuat sejak dari rumah dan sekolah, mereka tidak akan mudah terombang-ambing atau terpengaruh dampak negatif teknologi," sambung praktisi hukum tersebut.

​Di akhir keterangannya, Tumpal mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membiarkan kecanggihan gawai menjauhkan manusia Indonesia dari nilai-nilai gotong royong, kemanusiaan, dan keadilan. Penguatan Pancasila pada lini pendidikan dasar menjadi harga mati demi mencetak " Generasi Emas " yang tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga memiliki loyalitas penuh terhadap tanah airnya.

​Bagi Tumpal, kemajuan teknologi harus diadopsi sebagai alat untuk mempercepat kesejahteraan, bukan instrumen yang mencabut karakter luhur bangsa dari sanubari generasi muda.[romulo]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Desain: indotema.com